Ternyata bahagia itu sederhana. Seperti menyantap nasi timbel pun bisa menebus kangen masakan nenek . Apalagi jika dilengkapi dengan ayam berontak, tahu tempe, sayur asem, serta sambal cikur. Ah, pedas-pedas nikmat serasa sedang di kampung!
Di tengah serbuan hidangan internasional, makanan tradisional tak dipungkiri sering membuat kita kangen. Apalagi yang dibuat secara rumahan oleh tangan ibu. Kesederhanaannya justru membuat sajian tersebut semakin lezat dan tak terbeli. Seperti nasi timbel komplet!
Nasi timbel sebenarnya adalah nasi putih hangat yang dibungkus dengan daun pisang. Namun, nasi timbel terasa lebih nikmat daripada nasi putih biasa karena lebih beraroma. Makanan ini banyak ditemui di restoran bergaya Sunda dengan paduan macam-macam lauk.
Mumpung berada di Bogor, saya tak ketinggalan mencoba nasi timbel. Kebetulan saat melintasi daerah Bantarjati, saya melihat rumah makan 'Nasi Timbel Lido' dengan spanduk besar di atasnya. Sayapun teringat sudah lama tak menyantap sajian sedap ini.
Rumah makan ini sederhana, bertempat di halaman depan sebuah rumah pribadi. Area makan semi outdoor ini didominasi warna kuning gading dan kuning terang dengan beberapa spanduk berwarna merah. Kapasitasnya hanya sekitar 20 orang. Kursi dan meja kayu tertata rapi di bawah naungan kanopi.
Pilihan menunya tak begitu beragam. Selain nasi, ada ayam, sayur asem, sate jeroan, lalapan, dan macam-macam sambal. Sayapun memesan nasi timbel (Rp 7,000) dengan lauk ayam berontak, sayur asem, tahu tempe, serta sambal cikur. Untuk minumannya cukup yang sederhana, yakni es teh tawar (Rp 1,000).
Pesanan saya datang. Hmm... Aroma nasinya menguap. Daun pisangnya sedikit layu terkena panas nasi. Sebelum nasi disantap, jari tangan saya mencabik daging ayam berontak (Rp 7,000). Untungnya dia tidak berontak saat saya robek-robek. Hmm..teksturnya agak kenyal, tidak terlalu empuk tetapi gurih sedap.
Paha ayam ini berbalur sambal cabai merah dan cabai hijau. Meski terlihat sangar, nyatanya sajian ini tak terlalu pedas. Sayangnya, ayam yang digunakan lumayan kecil, sehingga tidak puas rasanya jika tidak memesan lauk lain.
Untungnya saya juga memesan sayur asem (Rp 3,000). Isiannya terdiri dari kacang panjang, kacang merah, jagung muda, labu siam, kacang tanah, melinjo, dan daun tangkil. Kuahnya agak keruh, asamnya pas dan tidak pedas.
Sepasang tahu dan tempe goreng (Rp 1,000/potong) saya jadikan cemilan setelah makan, begitupula dengan potongan mentimun dan selada yang menjadi pelengkap. Semuanya saya cocol satu per satu ke sambal cikur (Rp 3,000). Meski awalnya jidat saya berkerut saat mendengar kencur muda yang dijadikan sambal, ternyata saat dicoba rasanya enak juga.
Sambal khas Sunda ini justru terasa segar. Aroma kencurnya cukup menyengat diiringi rasa sedikit pahit pedas.Mungkin tak semua orang suka sambal khas Sunda ini. Rasanya agak pahit, sementara rasa pedasnya didapat dari ulekan cabai rawit merah dan hijau.
Bersantap di rumah makan Nasi Timbel Lido ini jadi serasa makan di rumah. Harganya pun ramah. Untuk yang kangen dengan masakan ibunda, yuk mampir ke sini!
Nasi Timbel Lido
Jl. Bangbarung Raya No. 55, Bantarjati, Bogor
D'Oryzza Food Center, Botani Square Padjajaran, Bogor
Telepon: 081280888296
0 komentar:
Posting Komentar